Gelar Sarjana Pendidikan


Pendidikan adalah ....
Sepertinya saya yang baru setahun menyandang gelar sarjana ini belum cukup untuk mendefinisikan arti kata pendidikan secara gamblang. Baiklah, barangkali sahabat punya definisi pendidikan sendiri? Saya ingin mencoba berbagi pengalaman dengan kisah seseorang yang mirip saya, padahal memang benar saya, tentang sebuah kata yang bernama pendidikan.



S.Pd itu Sarjana Pendidikan, bukan Sarjana Percaya diri atau Sarjana Pendopo. Saya bangga menyandang gelar ini, maka dari itu judul blog ini nama saya lengkap dengan gelar. Apakah terlihat sombong sahabat? Saya ingin menjelaskan mengapa menuliskan gelar yang saya dapat itu.

Sebetulnya tidak begitu perlu, sih, menyantumkan gelar nanti malah ada yang berpikiran kalau saya sombong atau pamer. Sebetulnya maksud dan tujuan saya bukan itu. Saya bangga dengan gelar ini dan betapa saya menghargai atas pihak almamater memberikan gelar ini. Gelar Sarjana Pendidikan.

Sekali lagi ya, maksud saya menyantumkan gelar bukan untuk menyombongkan diri atau pamer semata. Saya hanya ingin menunjukkan rasa syukur saya telah diberikan gelar ini dan saya gunakan. Barang kali ada para sahabat sudah juga menyandang gelar yang sama dengan saya, atau mungkin belum mendapatkannya? Tenang saja, pendidikan bukan sebatas gelar semata. Pendidikan bisa kita temukan dimana dan kapan saja.


Apa hebatnya, sih, seorang Sarjana Pendidikan?

Kalau sahabat tahu, saya mendapatkan gelar S.Pd ini dari Fakultas yang bernama Fakultas Teknik. Loh kok? Iya, pada waktu lalu kampus tersebut bernama IKIP Jakarta dan kini menjadi UNJ. Jangan aneh juga kenapa bisa melahirkan Sarjana Pendidikan dari Fakultas Teknik, soalnya saya mengambil program studi (prodi) Pendidikan Teknik Bangunan.

Besar harapan saya di masa yang akan UNJ bisa melahirkan Sarjana Teknik. Eits, tunggu dulu. memangnya ada apa dengan Sarjana Pendidikan? Tidak ada apa-apa, sih. Hanya saja angkatan saya, yaitu angkatan masuk tahun 2010 sudah tidak mendapatkan lagi Akta IV. Apa itu Akta IV? Akta IV itu adalah Akta Mengajar. Semacam selembar kertas yang menjadi penguatan kalau Sarjana Pendidikan itu bisa mengajar.
Sebetulnya sudah lama sekali perbincangan tentang penghapusan Akta IV ini, jadi angkatan senior saya itu ketika lulus dari kampus bukan hanya mendapat ijazah, namun juga mendapat Akta IV. Angkatan saya tidak dapat.
Pada UU Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 8 menjelaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Jadinya sekarang Akta IV diganti dengan sertifikat pendidik.
Guru bukannya sebuah profesi? Bukan begitu? Jadi harus bersertifikat ahli. Tidak sembarang orang bisa jadi guru. Jadinya lulusan dari prodi non-kependidikan bisa punya sertifikat pendidik tersebut. Saya pun pernah dengar kabar burung kalau nanti akan ada gelar tambahan di depan atau di belakang nama yaitu Gr. (guru). Masa sih?
Jadi intinya gini, saya mau menyampaikan untuk mahasiswa yang sekarang belajar di prodi pendidikan setelah dapat ijazah sarjana pendidikan kemudian bersaing lagi dengan sarjana non-kependidikan untuk mendapat sertifikat pendidik.
Dan, tahu kah sahabat cara mendapatkan sertifikat pendidik tersebut?
Ingat betul yang saya alami, sosialisasi mengenai cara mendapatkan sertifikat pendidik ini ketika kuliah dulu. Kalau tidak salah sempat dibahas saat mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan dan Profesi Kependidikan. Itu berapa tahun lalu saat semester-semester awal saya kuliah. Kemudian setelah lulus tahun 2015 lalu hingga kini belum ada kabar terbaru atau sosialisasi yang diberikan pihak pemerintah atau pihak kampus (atau saya tidak dapat undangan acaranya).
Nah, karena saya lupa cara mendapatkan sertifikat pendidik, jadinya saya searching pada beberapa situs. Dan ini yang cukup jelas memberikan informasi mengenai cara mendapatkan sertifikat pendidik.

Postingan pada tanggal 07 Desember 2015.
Pemerintah sendiri telah merancang beberapa program untuk mempersiapkan kegiatan akademik pengganti Akta IV tersebut, diantaranya yaitu PPG (pendidikan profesi guru) dalam jabatan PLPG (pendidikan dan latihan profesi guru) program ini ditujukan bagi para guru yang sudah PNS atau non-PNS. Guru-guru tersebut memperoleh pelatihan selama kurang lebih dua minggu (14 hari) dari LPTK yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Program tersebut berakhir pada tahun 2015. Setelah guru dinyatakan lulus dalam PLPG maka mereka memperoleh sertifikat pendidik sebagai pengganti akta IV.
Jalur yang kedua yaitu jalur PPG (pendidikan profesi guru) prajabatan. Dalam jalur ini terbagi menjadi tiga jalur yaitu PPG reguler, PPG-T, dan PPG-SM-3T. PPG reguler ini dibuka untuk umum baik untuk sarjana pendidikan atau sarjana non-pedidikann bisa megikuti PPG reguler. Untuk sementara ini PPG reguler belum berjalan. PPG-T yaitu pendidikan profesi guru terintegrasi. PPG-T ini berbeasiswa penuh selama setahun dan berasrama dari pemerintah. Yang terakhir yaitu PPG-SM-3T yaitu pendidikan profesi guru sarjana mendidik didaerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Sistemnya yaitu sarjana pendidikan melakukan pengabdian selama setahun didaerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Setelah selesai barulah medapatkan beasiswa PPG secara penuh selama setahun dan berasrama dari pemerintah. Program ini sudah berjalan mulai tahun 2011 (angkatan 1) sampai sekarang tahun 2014 (angkatan 4) yang sedang melaksanakan tugas pengabdian ditempat tugas. Bahkan pemerintah membuka kuota yang lebih banyak untuk angkatan ke-5 PPG-SM-3T tahun 2015 yaitu dibutuhkan sekitar lima belas ribu sarjana pendidikan. Baik PPG reguler, PPG-T, dan PPG-SM-3T dilaksanakan selama satu tahun setelah selesai melaksanakan program tersebut maka seorang sarjana pendidikan berhak menerima sertifikat profesi atau sertifikat pendidik sebagai pengganti akta IV. Dengan tambahan gelar dibelakang menjadi S.Pd.Gr. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa program pendidikan profesi guru untuk memperoleh sertifikat pendidik sudah disosialisasikan sejak tahun 2005 dan pemerintah pun sudah melaksanakan beberapa program untuk menunjang keputusan mengganti akta IV dengan sertifikat pendidik.

Sudah jelas? Apa yang sahabat tangkap? Sebagian ada yang belum paham ya? Begini saya kasih tahu apa yang saya tangkap dari cara mendapatkan sertifikat pendidik. Jadi, tidak usah ada prodi kependidikan saja sekalian kalau untuk jadi guru harus punya sertifikat pendidik dan sertifkat tersebut didapat setelah ikut PPG atau program semacamnya. Jadi tidak ada sarjana pendidikan lagi di masa depan, fokus saja dengan prodi lain. Nah, kemudian setelah mendapat gelar sarjana non-kependidikan bagi yang berminat mengajar silahkan ikut PPG atau program semacamnya.

Jadi, betapa bangganya saya masih mendapat gelar Sarjana Pendidikan.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Yah sekarang semuanya harus bersaing untuk mendapatkan tempat terbaik

    BalasHapus

Terima kasih telah berkomentar, jangan lupa baca tulisan-tulisan lainnya yang berada di blog ini.