Pemuda Harapan Bangsa

Pesantren Ramadhan PIK RISMA 12 Juni 2016

Sebelas hari sebelum bertambahnya usia ke dua puluh tiga, ini adalah hari ketika ingatan masa kecil kembali, suatu hal bernama cita-cita. Mendapati kesempatan menjadi kakak senior remaja masjid sekitar rumah dalam acara pesantren Ramadhan, membuat perasaan begitu berdebar, meski pun semenjak dua tahun lalu sudah rutin mengadakan kegiatan ini.


Tepat ba’da Dzuhur tiba, para santri pesantren diberikan waktu istirahat hingga jam satu siang untuk melanjutkan materi tentang pemuda harapan bangsa. Karena waktu masih ada tiga puluh menit, kalau pun istirahat juga tidak bisa jajan (karena bulan Ramadhan), dari pada hanya tidur-tiduran saja, para santri diajak bermain oleh saya dan rekan-rekan kakak senior.

Belum juga diarahkan untuk bermain apa, mereka (para santri) yang duduk melingkar langsung berinisiatif main ‘kotak pos’. Permainan masa kecil yang pernah saya alami ternyata masih lestari. Saya perhatikan sejenak sambil mengingat-ingat kembali cara bermainnya, merasa penasaran, saya bertanya kepada salah satu santri cara bermainnya.

Hmm, agar lebih bermanfaat kali, ya. Tidak lama bermain kotak pos, saya ambil perhatian para santri agar duduk tenang kembali melingkar. Saya mengkoordinir para santri ikhwan untuk sharing bersama, mereka berusia SD hingga SMP. Tema obrolannya yaitu tentang cita-cita.

“Dik, kakak punya sebuah pulpen. Ini adalah pulpen cita-cita. Silahkan adik-adik sebutkan nama dan cita-cita kalian sendiri. Oke, dimulai dari kakak dulu, ya.”

Dengan spontan saja saya memegang pulpen di tangan dan menjadikan bahan untuk sharing kali ini. Sebelum menyuruh para santri menyebutkan nama dan cita-citanya, perlu adanya saya mencontohkan. Saya genggam pulpen tersebut dengan kedua tangan, kemudian pulpen tersebut saya anggap sebuah mic, lalu saya bicara dengan lantang.

“Nama kakak, Galih Setio Utomo. Cita-cita kakak, menjadi Presiden.”

Bergulirlah satu persatu ke seluruh santri. Sebetulnya alasan saya menyuruh menyebutkan nama karena tidak begitu hafalnya saya dengan seluruh santri tersebut. Para santri yang masih SD dan SMP menyebutkan cita-citanya, ada yang mau jadi pilot, tentara, chef, pengusaha, dan lain-lain. Setelah mereka menyebutkan apa cita-cita mereka, maka satu forum tersebut meng-amin-kan. Semoga hal baik di masa datang menjadi gapaian para pemuda Islam.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Saatnya para santri mempersiapkan diri mengikuti materi ketiga kegiatan pesantren, yaitu pemuda harapan bangsa yang akan saya moderatori.

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar, jangan lupa baca tulisan-tulisan lainnya yang berada di blog ini.