Sepertiga Pendidikan Indonesia

Foto kegiatan GARASI-NURILAKA

Anak Indonesia butuh kesempatan, bukan kesepakatan.

Meraih cita-cita adalah harapan semua orang, pendidikan merupakan satu diantara banyak gerbang membuka harapan. Indonesia itu negara yang suka sekali mengubah-ubah sistem pendidikannya, dari seragam sekolah, sistem penilaian untuk lulus, hingga cara masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya. Selain perubahan-perubahan yang ada, pemerintah juga berupaya menggratiskan pendidikan. Bahkan banyak lembaga atau komunitas non pemerintah memberikan beasiswa. Itu semua semata untuk membuat pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Semua anak spesial, tidak ada anak yang bodoh.

Ujian Nasional yang dahulu menjadi momok bagi siswa untuk dapat lulus dari sekolah, kini menjadi momok siswa melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Sementara seorang anak yang baru lulus SD tidak mungkin mengurus sendiri supaya bisa mendaftar di SMP, sementara sistem untuk dapat mendaftar menggunakan online. Ini menimbulkan sebuah ungkapan, “anak yang mau sekolah, orangtuanya yang stress.”

Meski pun kasih sayang orangtua kepada anak tiada berbatas, kalau terhalang dengan sistem yang aneh-aneh, pasti deh, sayangnya jadi kesal. Sekarang semua orang harus lebih cepat belajar memaklumi sistem, bukan sistem yang memaklumi manusianya. Semua orangtua mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Oleh karena itu seberat apa pun prosedur yang dipersyaratkan oleh sekolah yang dituju, maka sesegera mungkin akan dipenuhi.

Sekolah negeri yang sekarang menjadi banyak idaman bagi orangtua untuk menyekolahkan anaknya agar tidak terbebani biaya. Sekolah negeri kini menjadi standar kelas satu di bangsa ini, ini terbukti. Bahwa untuk siswa yang baru lulus SD dan ingin masuk ke SMP menggunakan pendaftaran online dengan berbagai jalur masuk, jalur umum dan jalur lokal. Jalur tersebut tergantung pada Nilai Ebtanas Murni atau biasa disebut NEM, nilai dari pada Ujian Nasional.

Semakin tinggi nilainya maka semakin besar kesempatannya.

Menurut data statistik yang  didapat dari situs PPDB Bekasi pada tahun ajaran 2016/2017 terdapat 49 SMP Negeri dan 202 SMP Swasta di kota Bekasi. Tidak sampai 20% jumlah SMP Negeri, jelas sekali SMP Negeri menjadi primadona. Orangtua berbondong-bondong mendaftarkan anaknya untuk masuk sekolah negeri. Biaya murah pendidikan mudah, siswa yang ber-NEM paling tinggi masuk sekolah negeri. Untuk yang NEM-nya kalah tinggi? Silahkan bawa kembali impian masuk sekolah negeri.

Kalau mau masuk SMP Negeri harus tinggi NEM-nya, padahal punya keinginan masuk SMP situ, tapi memang ada saja yang kurang beruntung. Pintar di kelas waktu SD tapi NEM-nya kecil. Orangtuanya juga sudah banyak tanggungan, walhasil bersabar saja. Entah si anak mau masuk SMP mana, tidak mungkin menunggu satu tahun lagi. Jadinya masuk sekolah swasta saja yang bayarannya agak mahal, orangtua harus lebih giat lagi cari nafkah.

Andai saja di SMP Negeri tersebut mengadakan tes tulis untuk masuk, bisa saja siswa yang NEM-nya kecil tidak begitu berkecil hati karena tidak dapat di negeri. Orangtua anak tersebut juga puas, pasalnya sudah diberikan kesempatan, setelah NEM tidak lolos dan tes tulis dari SMP Negeri tersebut si anak tidak lolos. Menjadi sebuah kejanggalan saja bila hanya NEM yang menjadi tolok ukur untuk masuk SMP Negeri.

Seperti yang diungkapkan di awal tulisan, anak Indonesia membutuhkan kesempatan dan bukan kesepakatan.

Andai saja pendidikan Indonesia dibagi menjadi tiga. Sepertiga pendidikan Indonesia. SMP Negeri membagi tiga komposisi siswa yang masuk. Pertama, siswa yang NEM-nya tinggi. Kedua, siswa yang lolos tes tulis dari SMP tersebut. Ketiga, siswa khusus, seperti siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah, siswa ABK.


Mungkin pengandaian tersebut sudah terlaksana, namun nyatanya. Sekadar mengingatkan. Jadi jangan sampai NEM itu menjadi hal yang diperjualbelikan.

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar, jangan lupa baca tulisan-tulisan lainnya yang berada di blog ini.