Pemimpin Butuh Ruang


Suatu hari aku beranjak dari zona nyamanku, hari masih pagi sekali. Bahkan terlalu pagi untuk kulit ini dibasahi oleh air dalam bak mandi. Rupanya, mimpi yang membangunkanku. Aku pun lupa mimpi apa tadi. Langsung aku berdiri dan berjalan perlahan ke kamar mandi, WAAAA, seekor kecoa muncul. Sontak, aku kaget dan mengusirnya perlahan.


Selanjutnya, kucuci muka, terdengar kumandang azan Subuh, sekalian ambil wudhu. Seisi rumah masih terlelap, kubangunkan perlahan. Tiba-tiba saja ada keinginan salat berjamaah di masjid. Kuambil sarung dan baju koko, oh ya, tak lupa peci yang sudah lama tak kukenakan. Sebentar bercermin untuk memastikan tidak ada iler dan belek.

Jarak yang lumayan jauh menuju masjid membuat niatku melemah, aku keluar rumah dan menggeser pintu pagar. Terlihat seorang anak kecil yang belum masuk TK berjalan sendirian. Rumahnya pun lebih jauh satu gang ketimbangku. Masih dengan muka bantalnya, anak kecil tersebut sepertinya sudah biasa salat Subuh sepagi ini di masjid. Aku harus lebih semangat, nih.

Sepi sekali perjalanan menuju masjid, apa aku sudah ketinggalan? Sepertinya belum, deh. Kupercepat langkahku, WUSSSSSS, seekor tikus menyeberang melewati beberapa senti dari kakiku, aku kaget dan melompat. Belum lagi suara lolongan anjing, bikin aku merinding, ditambah ketika aku melewati rumah kosong, suasana semakin mendebarkan.

Dan, aku tiba. Yeay, berhasil melewati banyak rintangan. Betapa bahagianya hatiku.

Meski belum berada pada barisan terdepan, aku tetap bangga bisa tiba salat berjamaah Subuh di masjid.

Hari ini hari Minggu, arisan keluarga menunggu. Tepat jam sepuluh, aku bersama keluarga menuju. Dengan sepeda motor biru, aku melaju. Menghindari batu karena arisan menunggu. Hingga tiba aku, bersalaman dengan saudara satu per satu.

Acara berlangsung dengan riang, rumah saudaraku yang ketempatan kebetulan dekat sekali dengan masjid. Jadi tidak perlu berjalan jauh.

Waktu yang berjalan menempatkan aku di waktu Dzuhur. Azan berkumandang terdengar keras. Makan siang kutunda dan mengajak adik dan keponakan, mereka berdua masih sekolah dasar saat itu. Azan dari masjid usai, aku menuju masjid.

Tiba di masjid, kulihat hanya ada seorang kakek, sepertinya beliau yang azan barusan. Kakek itu sudah salat terlebih dahulu. Lalu, aku bingung. Ini masjid sepi sekali, masa hanya satu kakek yang salat di masjid ini? Kami bertiga (aku, adik, keponakan) segera ambil wudhu dan memperhatikan kakek barusan usai salat. Yasudah, aku menyuruh adik untuk iqomah, aku pimpin dua anak sekolah dasar salat berjamaah. Aku salat kan tuh, eh, kok, eh, kenapa?

Aku akhiri salat, dan, aku melihat banyak orang di masjid tersebut. Ternyata, o, ternyata, kakek tadi barusan salat sunnah. Hehehehehe.

Waktu berlanjut, perjalanan pulang ke rumah. Azan Ashar berkumandang. Kendaraan kulambatkan mencari tempat salat. Ketemu. Musala yang kecil. Hanya ada ruang ibadah dan kamar mandi dengan tempat berwudhu.

Tunggu. Aku melihat tas seseorang dan beberapa stel pakaian yang digantungan di dekat tempat wudhu. Sepertinya punya marbot musala ini. Sedikit kutermenung. Seorang bapak yang rambutnya mulai memutih sendirian menggantungkan hidupnya di tempat ini. Tak terbayang olehku bagaimana hidupnya.

Ibu menanyakan kotak amal di musala ini kepadaku, setelah kuperhatikan ternyata tidak ada kotak amalnya. Langsung saja diberikan ke marbotnya, semoga bermanfaat dan jadi berkah. Aamiin.

Perjalanan pulang terasa melelahkan. Sejenak menepi menunaikan ibadah tepat waktu membuat tenagaku mulai kuat lagi untuk mengendarai sepeda motor. Rasa kantuk sekejap hilang karena air wudhu. Oke. Perjalanan pulang ke rumah dilanjut.

Daripada bengong, lari sore saja. Sepatu jogging, bekal air minum dan buah pisang, dan kunci motor. Sampai rumah langsung cusss ke tempat biasa aku olahraga lari. Eh, iya, bawa alat untuk lompat tali juga.

Olahraga bikin kita bugar. Sempatkan waktu berolahraga biar segar. Lari dan lompat tali merupakan olahraga yang gak perlu repot-repot orang banyak. Jadi asyikin aja. Dua keliling lapangan berjalan kaki untuk pemanasan, dilanjut lari-lari gemes lima putaran, terus main lompat tali, terakhir ditutup pendinginan jalan dua putaran.

Keringatan sudah pasti, meski tak sampai bau apek, tapi harus mandi biar wangi. Kan mau salat Maghrib sebentar lagi. Ba'da Maghrib juga ada kajian sama pak Ustaz.

Kajian berlangsung hingga waktu Isya, seluruh jamaah lanjut salat.

Tiba di rumah, kududuk di bangku. Beuh. Betapa serunya hari ini. Rahasia ruang dan waktu aku temukan. Aku yang dahulu kudu menjadi lebih baik sekarang. Aku musti kendalikan diri sendiri, pimpin diri sendiri. Beri ruang pada diriku untuk memimpin diri sendiri. Menjalani kehidupan di dunia yang berbatas ruang dan waktu, menunggu azan dari waktu ke waktu.

---
Terima kasih telah membaca. Jangan lupa beri komentar kalian.


You Might Also Like

1 komentar

  1. Tak kira ini apa, eh malah di akhir kalimanya baru nongol yang pemimpin butuh ruang sendiri.,,hehe

    salam kenal ya gan :)
    Cipok basah :*

    BalasHapus

Terima kasih telah berkomentar, jangan lupa baca tulisan-tulisan lainnya yang berada di blog ini.